Sabtu, 14 Februari 2009

Baik Buruk Quick Count di Indonesia

Sejumlah lembaga survey di Indonesia dinilai belum memberikan edukasi yang benar kepada para pemilih. Hasil quick count (hitung cepat) yang selama ini dirilis oleh lembaga survey tidak seharusnya disebut seperti itu.
“Hasil hitung cepat dengan menanyai pemilih saat keluar TPS adalah exit polls. Bukan quick count,”kata Joe Hansen, campaign advisor Presiden AS Barrac Obama, dalam diskusi survey dan opini public di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, kemarin (10/02). Selain Hansen, Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari juga sebagai pembicara dalam diskusi yang diselenggarakan Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) itu.
Hansen Mengatakan, kesalahan interpretasi antara qoick count dan exit polls seharusnya dihindari. Lembaga Survei seharusnya bisa menjelaskan kepada public bahwa hitung cepat yang mereka maksud adalah exit polls. Penghitungan cepat yang sebenarnya adalah penghitungan sebenarnya dari jumlah surat suara yang dilakukan penyelenggara, dalam hal ini komisi pemilihan umum. “Lembaga survey harus menjelaskan kepada media supaya public tahu apa yang mereka dapatkan,” jelas Hansen.
Hansen lantas menyoroti adanya sejumlah konflik yang terjadi akibat penghitungan cepat yang ada di Indonesia. Menurut dia, tidak bisa dipersalahkan adanya misinterpretasi itu. “Publik melihat dari informasi di media. Namun informasi itu kurang karena tidak ada penjelasan apa sebenarnya itu,” ujarnya mengingakan. Pada kesempatan itu Hansen juga memberikan apresiasi atas terbentuknya Persepi. Menurut dia, Persepi bisa melakukan filter terhadap lembaga survey yang melakukan abuse (pembohongan) semacam itu. Politik Indonesia dan Pengemasan sajian tayangan harus ditingkatkan demi menjamin anak bangsa dan generasi muda yang bernasionalisme dan jujur.

1 komentar: